Penyanyi nikita yang populer dengan lagu rohani

Penyanyi nikita yang populer dengan lagu rohani

Malam kudus, sunyi senyap, Dunia terlelap, Hanya dua berjaga terus, Ayah Bunda mesra dan kudus, Anak tidur tenang, Anak tidur tenang” demikian penggalan lirik lagu Natal, Malam Kudus, terjemahan karya pastor Austria Fr. Josef Mohr. Hari Raya Natal tidaklah pas rasanya tanpa kidung atau nyanyian lagu rohani.

Populer semenjak tahun 1990-an sebagai biduan cilik, sosok Natashia Nikita, tidak terlepas dari lagu rohani Kristen yang besar bersamanya. Sebut saja lagu Natal Malam Kudus, dan sebanyak lagu rohani Di Doa Ibuku Namaku Disebut, Bapa Surgawi, dan Kasih Yesus. Nikita demikian ia disapa, tidak sedikit berpartisipasi dalam sejumlah album rohani kompilasi laksana Private Collection, Best Worship. Salah satu hit-nya saat remaja ialah ‘Seperti yang Kau Ingini’ dan menjadi soundtrack sinetron Buku Harian Nayla (2007).

Menginjak umur 32 tahun, Nikita sekarang menjadi sosok ibu setelah persalinan bayi Anaya Dominica Wirasa. Jadi public figure,ada enaknya dan juga terdapat tidaknya. Enaknya, dengan follower(pengikut) alias fans yang bejibun, dia bisa melakukan banyak. Tentu, yang mempunyai sifat positif. Misalnya menyuruh untuk menolong seseorang atau suatu lembaga sosial.

Penyanyi nikita yang populer dengan lagu rohani

Mengungkap Penyanyi nikita yang populer dengan lagu rohani

Di era kekinian yang penuh teknologi, kehadiran jumlah fans,bisa menjadikan pundi-pundi ekonomi. Ia dapat berpromosi untuk para pengikutnya. Untuk yang ‘maniak-maniak’, fans berat, pasti ini bakal menjadi sarana promosi yang bagus. Tapi memang tidak seluruh publik tokoh melakukan urusan ini. Ia hanya lumayan mengabarkan kegiatannya semata. Bersapa dengan penggemar. Titik. Bukan memanfaatkan kehadiran fans untuk kepentingan diri sendiri.

Enaknya lagi untuk publik figur, ia acapkali justeru dapat kado, hadiah, souvenir, dan semacamnya dari semua fans.Misalnya ketika ia berulang tahun, atau langsung temu peminat di wilayah secara langsung. Pada sisi lain, kehadiran sang publik figur, dia bakal dituntut tampil yang ‘sempurna’ oleh semua penggemarnya. Salah komen, salah ucap, salah posting sesuatu; walau tidak banyak saja, dapat jadi bulan-bulanan.Dicibir, dikatai negatif, sok-sok’an, dan cap-cap beda yang terkesan buruk, jelek, dan bahkan dapat satir dan ‘sadis’.

gadis kelahiran Jakarta, 22 Mei 1988 ini. Sudah tidak sedikit situs yang memuatnya. Sekadar penyegar memori saja, Natashia Nikita atau umum dikenal dengan nama Nikita, ialah seorang biduan rohani keturunan Tionghoa. Ia merilis album perdananya pada tahun 1995 yang berjudul Di Doa Ibuku Namaku Disebut ketika berusia 7 tahun. Hingga 2014, terdaftar 13 album diluncurkannya. Juga sejumlah album kompilasi lainnya.

Tak disangka-sangka, lewat lagu tersebut, nama Niki atau Niq (panggilan akrabnya) melambung. Lagu tersebut berhasil di pasaran. Lirik lagu ini mempunyai sifat universal, Jadi tak heran, pernah merajai tangga lagu di sejumlah radio swasta di Indonesia. Bahkan namanya sempat hadir menjadi nominator AMI (Anugerah Music Award) 1998 untuk kelompok Penyanyi Cilik Terbaik.

Prestasi bermusik lainnya, di tahun 2005, dalam ajang Indonesian Gospel Music Award(IGMA), Nikita pernah mendapat penghargaan sebagai “Best Female of The Year”. Sementara, pada jenjang pendidikan, hasil memuaskan dijangkau olehnya. Gadis yang kegemarannya menyimak (ada 5.000 judul kitab dimilikinya dan kian bertambah) ini, di samping langganan masuk 3 besar (SD), masa-masa SMP dan SMA pun selalu masuk 10 besar. Sementara nilai IP (indeks prestasi)-nya dalam kuliahnya menjangkau 3,67.

Nikita sempat main sinetron masa-masa masih kecil (Bias Kasih (1998) di Anteve dan Kasih (2001) di SCTV). Di samping itu, suara merdunya menjadi top list lagi saat RCTI (2006) menayangkan sinetron berjudul Buku Harian Nayla. Ia ikut andil sebatas berdendang OST Seperti Yang Kau Ingini. Seolah mengulang kesuksesan awal, lagu ini juga disukai tidak sedikit orang; tergolong lintas generasi dan lintas iman.

Nah, balik kepada topik awal. Menjadi publik figur tidaklah mudah. Jangankan di bidang sekuler, yang rohani/religi pun dapat berujung sama, meski kadarnya jauh berbeda. Ia akan tidak sedikit mendapat sorotan. Ia jelas menjadi sorotan dan panutan publik. Jadi terdapat komentar-komentar yang positif saja, masih bagus. Memberi saran atau kritik, masih juga dapat diterima. Sebagai bahan masukan untuk membenahi dan menjadi lebih baik lagi di esok hari.

Tetapi bila komentarnya yang nyinyir-nyinyir, itulah yang menganggu. Sudah tidak produktif, dan justeru membikin kesal sesama netizen (warganet). Bahkan tidak jarang, halaman ‘si artis’ malah banjir perdebatan salah satu para lover dan hater(penyuka dan pembenci).

Maksudnya, setenar-tenarnya seseorang, sengetop-ngetopnya publik figur, janganlah mereka dirasakan sebagai sosok rupawan yang ‘sempurna’. Lalu anda memosisikan diri sebagai judgement,sang pengadil. Berperan bak hakim guna orang lain; namun tidak guna diri sendiri. Seolah-olah berkeinginan mengatur ‘sang idola’ supaya tidak boleh begini-begitu; mesti ini dan itu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *